Efek Rumah Kaca

Ditulis tanggal 4 September 2015 dalam kategori Alam & Lingkungan dengan label

Akhir-akhir ini, sering kita mendapat berita tentang banyaknya bencana alam, naiknya permukaan air laut dan berbagai macam penyakit manusia. Efek rumah kaca, begitu para pakar lingkungan menyebut akan fenomena alam tersebut. Berbagai konferensi tingkat dunia pun banyak digelar untuk menanggulangi permasalahan efek rumah kaca ini agar tak semakin memburuk. Apa itu efek rumah kaca, apa penyebabnya dan bagaimana mencegahnya ?

Efek rumah kaca sebenarnya adalah istilah yang didapatkan dari pengalaman para petani saat mereka menanam sayur-sayuran dan biji-bijian di dalam rumah kaca atau green house. Pada siang hari, suhu di dalam green house tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan suhu diluar. Hal ini dikarenakan, sebagian panas sinar matahari diserap oleh tanaman dan tanah di dalam green house dan sebagian lagi dipantulkan dalam bentuk sinar infra merah. Sinar infra merah ini tidak bisa menembus keluar green house sehingga terjebak di dalam green house, menyebabkan suhu di dalam meningkat, menjadi lebih panas daripada suhu di luar green house. Dengan demikian bisa dikatakan efek rumah kaca adalah pemanasan suatu benda langit atau angkasa yang disebabkan kondisi dan komposisi atmosfernya.

Penyebab Efek Rumah Kaca

skema efek rumah kacaEfek rumah kaca disebabkan oleh naiknya konsentrasi gas-gas pemicu efek rumah kaca, yang diantaranya adalah :

Karbondioksida

Karbondioksida adalah senyawa kimia dalam bentuk gas yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil, batu bara serta bahan organik lainnya. Tingginya konsentrasi karbondioksida yang dihasilkan, dapat melampaui kemampuan laut maupun tumbuhan untuk menyerapnya. Hal ini menjadi salah satu pemicu adanya efek rumah kaca.

Hidrokarbon metana

Hidrokarbon metana adalah gas yang dilepaskan selama proses transportasi dan proses produksi gas alam, batu bara dan minyak bumi. Metana adalah komponen utama dari gas alam sehingga termasuk dalam pemicu efek rumah kaca.

Nitrogen oksida

karbondioksidaNitrogen oksida dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, dan juga dari lahan pertanian. Nitrogen oksida dihasilkan dari reaksi antara nitrogen dan oksigen yang bertemu di udara saat terjadi pembakaran, yang biasanya terjadi dalam suhu tinggi. Contoh proses penghasil nitrogen oksida adalah padatnya lalulintas, sehingga gas ini termasuk dalam pemicu efek rumah kaca.

Selain gas-gas tersebut diatas gas-gas lain juga dapat menyebabkan efek rumah kaca, seperti belerang dioksida dalam proses produksi baterai, deterjen, pupuk, dan bubuk mesiu, serta klorofluorescent (CFC) dalam produk-produk semprot atau spray seperti obat nyamuk semprot, dan pewangi ruangan semprot.

Dampak Efek Rumah Kaca

nitrogen oksidaEfek rumah kaca bagi lingkungan menyebabkan perubahan negatif, seperti naiknya permukaan air laut, perubahan iklim ekstrim, terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, pemanasan global, terjadi fenomena kekeringan dan gagal panen, berkurangnya kemampuan bumi dalam menyerap karbondioksida dan munculnya berbagai wabah penyakit.

Pencegahan Efek Rumah Kaca

Mengingat bahaya-bahaya yang bisa terjadi dari efek rumah kaca, berbagai cara telah ditemukan antara lain, memelihara dan menanam tumbuhan lebih banyak lagi, dengan kata lain mencegah pembalakan liar di hutan- hutan. Tumbuhan akan menyerap karbondioksida dalam proses fotosintesis, memecahnya dan menyimpan karbon di kayunya. Sebagai hasil dari fotosintesis, tumbuhan akan menghasilkan dan melepaskan oksigen / O2 ke udara, sehingga udara menjadi sejuk.

Di bidang internasional, telah dibentuk konvensi Protokol Kyoto sebagai upaya untuk menanggulangi efek rumah kaca. Protokol Kyoto memerintahkan negara-negara di dunia untuk berkomitmen mengurangi emisi gas karbondioksida serta kelima gas lainnya penyebab efek rumah kaca.

Efek rumah kaca menjadi hal yang tidak bisa kita hindari dalam jaman kita yang semakin bertambah maju. Namun bersama-sama kita bisa meminimalkan efek rumah kaca terhadap lingkungan bumi tempat tinggal kita dengan kesadaran yang tinggi dengan hidup ramah lingkungan, dan menjadikan gaya hidup green living sebagai gaya hidup kita yang baru. Dengan menanam tumbuhan lebih sering dan lebih banyak kita telah ikut membantu dan menjaga kelestarian alam bumi kita tercinta ini.